Aplikasi Linear Programming

Linear programming adalah bidang ilmu yang digunakan dalam optimisasi karena beberapa alasan. Pada pembahasan sebelumnya dalam blog ini, anda telah mengetahui mengenai konsep metode transportasi yang melibatkan linear programming dan goal programming, untuk lebih jelasnya mengenai pembahasan sebelumnya bisa anda lihat disini. Adapun pembahasan kali ini akan dititik-beratkan pada contoh aplikasi linear programming pada manajemen maupun dalam optimisasi usaha.

Banyak masalah-masalah praktis dalam riset operasi dapat dinyatakan sebagai masalah pemrograman linear. Beberapa kasus khusus linear programming, seperti masalah aliran jaringan dan aliran multi-komoditas yang dianggap cukup penting untuk diteliti dengan suatu algoritma khusus untuk meraih solusi. Sejumlah algoritma untuk masalah optimisasi lain dioperasikan dengan memecahkan masalah LP sebagai sub-masalah. Secara historis, ide-ide dari pemrograman linear telah menginspirasi banyak konsep pusat teori optimisasi, seperti dualitas, dekomposisi, dan pentingnya kecembungan dan generalisasi. Demikian pula, linear programming banyak digunakan dalam ekonomi mikro dan manajemen perusahaan, seperti perencanaan, produksi, pengangkutan, teknologi dan isu-isu lainnya. Walaupun isu-isu manajemen modern yang selalu berubah, sebagian besar perusahaan ingin memaksimalkan keuntungan atau meminimalkan biaya dengan sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, banyak hal dapat dikategorikan menjadi masalah pemrograman linear.

Ilustrasi sederhana:

Misalkan seorang petani memiliki sebidang tanah pertanian, misalnya seluas 5 hektar, yang akan ditanam dengan gandum atau kedelai atau kombinasi dari keduanya. Petani hanya memiliki pupuk NPK (P) yang terbatas dan hanya sedikit insektisida (I) yang digunakan, maka masing-masing yang dibutuhkan dalam jumlah yang berbeda per satuan luas untuk gandum adalah (P1, I1) dan kedelai adalah (P2, I2). Misalkan harga jual gandum adalah Rp.5.000/kg, dan harga kedelai adalah Rp.7.000/kg. Jika ladang yang ditanami gandum dan kedelai kita nyatakan dengan X1 dan X2 berturut-turut, maka jumlah yang optimal untuk ditanami gandum dengan kedelai dapat dinyatakan sebagai masalah pemrograman linear (LP) sebagai berikut:

Diketahui:

Luas lahan : 5 Ha

Jumlah pupuk (terbatas) : P

Jumlah insektisida (terbatas) : I

Harga Jual gandum : Rp. 5.000/kg

Harga Jual Kedelai : Rp. 7.000/kg

Ladang tanam gandum : X1

Ladang tanam kedelai : X2

Maka dengan demikian, perumusan algoritmanya menjadi:

5000(X1) + 7000(X2) (memaksimalkan keuntungan, keuntungan merupakan fungsi sasaran)

X1 + X2 < 5 Ha (keterbatasan lahan)

P1X1 + P2X2 < P (keterbatasan pupuk terhadap lahan)

I1X1 + I2X2 < I (keterbatasan insektisida terhadap lahan)

X1 > 0, X2 > 0 (area yang tidak dapat ditanami)

Maka bentuk matriksnya dapat disusun sebagai berikut:

Memaksimalkan keuntungan >> Subjek untuk

Ilustrasi dalam Manajemen:

Misalkan seorang manajer produksi bertanggung jawab untuk penjadwalan bulanan produksi suatu produk tertentu untuk perencanaan selama dua belas bulan. Untuk tujuan perencanaan, manajer diberi informasi berikut:

1. Total permintaan untuk produk dalam bulan j adalah dj, untuk j = 1, 2,. . ., 12. Ini dapat berupa nilai-nilai yang ditargetkan atau didasarkan pada perkiraan.

2. Biaya memproduksi tiap unit produk dalam bulan j adalah cj (dolar), untuk j = 1, 2,. . ., 12. Tidak ada biaya setup / biaya tetap untuk produksi.

3. Biaya persediaan per unit untuk bulan j adalah hj (dolar), untuk j = 1, 2,. . ., 12. Ini dikeluarkan pada setiap akhir bulan.

4. Kapasitas produksi untuk bulan j adalah mj, untuk j = 1, 2,. . ., 12.

Tugas manajer adalah untuk menghasilkan jadwal produksi yang meminimalkan total produksi dan biaya persediaan selama 12 bulan perencanaan produksi.

Untuk memfasilitasi perumusan pemrograman linear (LP), manajer memutuskan untuk membuat penyederhanaan asumsi sebagai berikut:

1. Tidak ada persediaan pada awal bulan pertama.

2. Unit produksi dijadwalkan dalam bulan j, dan segera dipersiapkan untuk pengiriman pada awal bulan itu. Ini berarti berlaku bahwa tingkat produksi terbatas.

3. Kekurangan produk tidak dimungkinkan terjadi pada akhir setiap bulan.

Untuk memahami hal-hal tersebut secara lebih baik, mari kita perhatikan bulan pertama. Misalkan, untuk bulan itu, yang direncanakan sama dengan tingkat produksi 100 unit dan permintaan, d1, sama dengan 60 unit. Kemudian, sejak awal persediaan adalah 0 (Asumsi No. 1), tingkat persediaan akhir untuk bulan pertama akan menjadi 0 + 100 – 60 = 40 unit. Perhatikan bahwa semua dari 100 unit produk akan segera tersedia untuk pengiriman (Asumsi No. 2); dan terhadap permintaan d1 = 60, kita harus menghasilkan tidak kurang dari 60 unit pada bulan pertama, untuk menghindari kekurangan (Asumsi No. 3). Misalkan bahwa biaya produksi pada bulan 1 (c1) = 15 dan Biaya persediaan (h1) = 3. Kemudian, total biaya untuk bulan pertama dapat dihitung sebagai:

15 × 100 + 3 × 40 = 1.380 dolar.

Pada awal bulan kedua, akan ada 40 unit produk dalam persediaan (karena permintaan pada bulan pertama adalah 60, sedangkan yang diproduksi adalah 100), dan yang sesuai persediaan akhir dapat dihitung sama, berdasarkan inventaris awal, tingkat produksi yang telah dijadwalkan, dan total permintaan untuk bulan itu. Skema yang sama kemudian diulang sampai akhir seluruh perencanaan selama 12 bulan.

Setelah dihasilkan total biaya hingga bulan ke-12, maka kita dapat menentukan formulasi linear programming untuk masalah ini:

1. Variabel keputusan:

Manajer bertugas untuk menetapkan tingkat produksi untuk setiap bulan. Oleh karena itu, telah disusun 12 variabel keputusan (berdasarkan jangka waktu produksi selama 12 bulan):

Xj = tingkat produksi pada bulan j, j = 1, 2,. . ., 12.

2. Fungsi Sasaran

Mari kita lihat kembali pada bulan pertama. Dari pembahasan di atas, kita mendapatkan:

Biaya produksi adalah sama dengan biaya produksi dikali dengan tingkat produksi atau c1×1.

Biaya persediaan adalah sama dengan h1 (x1 – d1), dengan asumsi bahwa tingkat persediaan akhir (x1 – d1) masih ada, atau tidak negatif.

Oleh karena itu, total biaya untuk bulan pertama sama dengan c1×1 + h1 (x1 – d1)

Untuk Bulan kedua dapat kita nyatakan sebagai berikut:

Biaya produksi adalah sama dengan c2×2.

Biaya persediaan akhir sama dengan h2 (x1 – x2 – d1 + d2), dengan asumsi bahwa tingkat persediaan akhir, x1 – d1 + x2 – d2, adalah masih ada. Berikut ini dari fakta bahwa tingkat persediaan awal bulan ini adalah x1 – d1, tingkat produksi untuk bulan ini adalah x2, dan permintaan untuk bulan ini adalah d2.

Oleh karena itu, total biaya untuk bulan kedua sama dengan c2×2 + h2 (x1 – d1 + x2 – d2).

Maka Total biaya produksi untuk seluruh perencanaan selama 12 bulan adalah:

Karena tujuan kita adalah untuk meminimalkan total biaya produksi dan biaya persediaan, maka fungsi sasaran dapat dinyatakan sebagai:

3. Fungsi Kendala

Karena kapasitas produksi untuk bulan mj adalah j, maka kita memerlukan:

Tingkat produksi untuk bulan j < kapasitas produksi untuk bulan j (xj < mj)

untuk j = 1, 2,. . ., 12; dan karena kekurangan tidak diperbolehkan (Asumsi No. 3), kita memerlukan:

Tingkat produksi untuk awal bulan k – total permintaan awal bulan k > 0, atau dengan notasi:

untuk j = 1, 2,. . ., 12. Telah menghasilkan sebanya 24 fungsi kendala. Tentu saja, karenanya tingkat produksi xj tidak boleh negatif.

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fungsi Linear Programming untuk manajemen selama 12 bulan adalah:

Variabel Keputusan + Fungsi Sasaran * Fungsi Kendala

Atau dengan formulasi:

subjek untuk:

xj < mj, untuk j = 1,2,3,…..12.

, untuk j = 1,2,3,…..12.

xj > 0, untuk j = 1,2,3,….12.

Dengan demikian telah kita dapatkan fungsi linear programming dengan 12 variabel keputusan, 24 fungsi kendala, dan 12 fungsi kendala non-negatif. Dalam pelaksanaannya, kita perlu mengganti cj, hj, dj, dan mj dengan nilai-nilai numerik.

Pada pembahasan berikutnya, akan dibahas pengaplikasian linear programming pada kasus investasi dengan bantuan perangkat lunak LINDO.(yoz)

Peramalan Berbasis Regresi

Model kausal mengasumsikan bahwa variabel yang diramalkan (variabel dependen) terkait dengan variabel lain (variabel independen) dalam model. Pendekatan ini mencoba untuk melakukan proyeksi berdasarkan hubungan tersebut. Dalam bentuknya yang paling sederhana, regresi linear digunakan untuk mencocokkan baris ke data. Baris itu kemudian digunakan untuk meramalkan variabel dependen yang dipilih untuk beberapa nilai dari variabel independen. Model yang digunakan sama dengan model pada regresi linier berganda, yaitu:

Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + … + bnXn + bnd + En

dimana:

Y = nilai observasi dari variabel yang diukur

b0 = konstanta

X = variabel pengukur (independen)

d = variabel surrogates (dummy)

ε = error

Ilustrasi:

Pabrik Susu “Maju-Mundur” ingin melihat penjualan perusahaan pada bulan-bulan berikutnya, yang dimulai pada bulan ke-13, variabel-variabel yang mereka sertakan dalam peramalan adalah jumlah biaya iklan dan biaya distribusi dalam jutaan Rupiah. Data yang diberikan adalah sebagai berikut:

Bulan

Sales

Biaya Iklan

Biaya Distribusi

(juta Rupiah)

(jutaan Rupiah)

(jutaan Rupiah)

1

100

10

25

2

250

23

28

3

150

15

20

4

120

16

20

5

200

20

27

6

240

25

28

7

180

20

18

8

300

26

30

9

250

24

27

10

180

22

24

11

220

20

25

12

230

25

21

Dengan SPSS 17.0, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Input data ke dalam worksheet SPSS seperti berikut:

2. Kemudian pilih Analyze – Regression – Linear, seperti berikut:

3. Setelah muncul kotak dialog Linear Regression, maka pindahkan variabel dependen “sales” ke kotak dependent, serta variabel iklan dan distribusi ke kotak independent, seperti berikut:

4. Setelah itu di sisi kanan, pilih statistic, centang estimates, model fit, dan Durbin Watson, klik continue:

5. Pada Plot, masukkan ZRESID ke kotak Scatter X, dan ZPRED ke scatter Y, lalu pada bagian Residuals centang normal probability plot, lalu klik continueOK, seperti berikut:

6. Berikutnya akan ditunjukkan output sebagai berikut:

Output plot menunjukkan model yang dihasilkan terhadap garis linier.

ANOVAb

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

34027.813

2

17013.907

43.270

.000a

Residual

3538.853

9

393.206

Total

37566.667

11

a. Predictors: (Constant), Distribusi, Iklan

b. Dependent Variable: Sales

Dari output  ANOVA dapat kita lihat model adalah signifikan yang diindikasikan dengan nilai sig. = 0,000.

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

-103.314

39.650

-2.606

.028

Iklan

9.595

1.385

.787

6.927

.000

Distribusi

4.435

1.726

.292

2.569

.030

a. Dependent Variable: Sales

Dari output  Coefficients kita dapati nilai koefisien korelasi yang akan dimasukkan ke dalam persamaan regresi model peramalan “sales” dengan variabel independen iklan dan distribusi.

Kedua variabel independen memiliki nilai p-value berturut-turut adalah 0,000 dan 0,030 yang lebih kecil dari nilai kritik α = 0,05, dengan demikian masing-masing variabel signifikan berpengaruh terhadap sales, dan baik untuk digunakan dalam peramalan.

Maka dengan demikian model yang didapatkan adalah:

Y = -103,3 + 9,59 (Iklan) + 4,44 (Distribusi) + ε

Hasil peramalan yang didapat dalam bulan berikutnya dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Jika perusahaan memutuskan alokasi biaya iklan adalah 20 juta, dan biaya distribusi 30 juta pada bulan ke 13, maka jumlah total sales pada bulan ke-13 adalah:

Y = -103,3 + 9,59 (20) + 4,44 (30)

Y = 221,67

Maka nilai penjualan pada bulan ke-13 adalah Rp. 221.670.000,-

Demikian seterusnya untuk bulan-bulan berikutnya, dengan menentukan alokasi “biaya iklan” dan “biaya distribusi”, maka manajemen dapat menentukan nilai penjualan (sales) dari model yang dihasilkan melalui metode kausal (regresi linier). (yoz)

Faktorial ANOVA

Faktorial ANOVA menguji perbedaan mean antar kelompok data berdasarkan pada dua atau lebih variabel independen, dengan variabel dependen tunggal. Faktorial ANOVA dapat melibatkan dua atau lebih data kategorik/ordinal antar subjek atau satu data interval atau rasio.

Faktorial ANOVA digunakan ketika kita ingin mempertimbangkan efek lebih dari satu faktor pada perbedaan dalam variabel dependen. Sebuah rancangan faktorial adalah desain eksperimental di mana setiap tingkat masing-masing faktor dipasangkan atau disilangkan dengan tiap tingkat setiap faktor lainnya. Dengan kata lain setiap kombinasi dari faktor-faktor tingkat disertakan dalam desain. Desain jenis ini sering digambarkan dalam sebuah tabel matriks (misal 2 x 3, dll).

Desain faktorial memungkinkan kita untuk menentukan apakah ada interaksi antara variabel bebas atau faktor yang dipertimbangkan. Interaksi menyiratkan bahwa perbedaan dalam salah satu faktor perbedaan tergantung pada faktor lain.

Ilustrasi:

Faktorial ANOVA dapat digunakan jika kita ingin mengetahui apakah jenis kelamin (pria/wanita) dan tingkat pendapatan (tinggi/rendah) mempengaruhi keputusan pembelian makanan fastfood. Data konsumsi fastfood dinyatakan dalam frekuensi kunjungan setiap tahun. Data yang diberikan adalah sebagai berikut.

Income

Sex

Frequency

tinggi

pria

31

tinggi

wanita

40

tinggi

wanita

32

tinggi

wanita

34

tinggi

pria

33

tinggi

wanita

34

tinggi

pria

30

tinggi

pria

33

tinggi

wanita

28

tinggi

pria

34

rendah

pria

30

rendah

wanita

27

rendah

pria

25

rendah

pria

24

rendah

wanita

20

rendah

pria

23

rendah

pria

31

rendah

pria

33

rendah

pria

34

rendah

wanita

28

Dari ilustrasi tersebut, hipotesis yang akan kita gunakan adalah:

H01 : tidak ada perbedaan yang signifikan antara tingkat pendapatan tinggi dan rendah

H02 : tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin pria dan wanita

H03 : tidak terjadi efek interaksi antara jenis kelamin dan jenis pekerjaan terhadap frekuensi kunjungan

Dengan SPSS 17.0 langkah-langkahnya dapat kita lakukan sebagai berikut:

1. Input data ke dalam worksheet SPSS seperti berikut:

2. Pilih pada menubar Analyze – General Linear Model Univariate seperti berikut:

3. Setelah muncul kotak dialog Univariate, maka pindahkan variabel yang akan diukur (frekuensi) ke dalam kotak dependent variable dan variabel sex dan income ke dalam kotak fixed factor:

4. Kemudian klik continue, pilih plots, masukkan variabel kategorik sex dan income masing-masing ke dalam kotak horizontal axis dan separate lines seperti berikut: kemudian klik addcontinue,

5. Setelah itu pilih option, masukkan variabel sex, income, dan sex*income ke dalam kotak kotak displays mean for, lalu centang descriptive statistic, observed power, dan homogeneity test seperti berikut:

6. Setelah itu klik continue dan OK, maka akan ditunjukkan output berikut:

Descriptive Statistics

Dependent Variable:Frequency

Sex

Income

Mean

Std. Deviation

N

pria

rendah

28.5714

4.50397

7

tinggi

32.2000

1.64317

5

Total

30.0833

3.94181

12

wanita

rendah

25.0000

4.35890

3

tinggi

33.6000

4.33590

5

Total

30.3750

5.99851

8

Total

rendah

27.5000

4.55217

10

tinggi

32.9000

3.17805

10

Total

30.2000

4.71950

20

Dari output descriptive statistics dapat kita lihat nilai mean dan standard deviasi masing-masing variabel dan totalnya.

Levene’s Test of Equality of Error Variancesa

Dependent Variable:Frequency

F

df1

df2

Sig.

1.935

3

16

.065

Tests the null hypothesis that the error variance of the dependent variable is equal across groups.

a. Design: Intercept + Sex + Income + Sex * Income

Dari output Levene’s Test of Equality kita dapat mengetahui signifikansi model adalah sebesar 0,065 (0,065 > 0,05), maka kita simpulkan bahwa keragaman berbeda signifikan dan model tidak homogen

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Frequency

Source

Type III Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

Noncent. Parameter

Observed Powerb

Corrected Model

177.486a

3

59.162

3.852

.030

11.557

.714

Intercept

16263.060

1

16263.060

1058.990

.000

1058.990

1.000

Sex

5.381

1

5.381

.350

.562

.350

.086

Income

170.668

1

170.668

11.113

.004

11.113

.879

Sex * Income

28.207

1

28.207

1.837

.194

1.837

.247

Error

245.714

16

15.357

Total

18664.000

20

Corrected Total

423.200

19

a. R Squared = ,419 (Adjusted R Squared = ,311)

b. Computed using alpha = ,05

Dari output dependent variable: Frequency dapat kita lihat bahwa efek Sex dan Interaksi variabel Sex*Income memiliki nilai p-value (sig. > 0,05) berarti bahwa tidak ada interaksi yang signifikan antara variabel Sex dan Income dalam hubungannya terhadap frekuensi kunjungan ke gerai fastfood.

Efek yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan hanya Income dengan nilai p-value (sig. < 0,05), ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan berpengaruh signifikan terhadap kunjungan ke gerai fastfood.

Sedangkan Sex tidak menunjukkan signifikansi yang mempengaruhi kunjungan dengan nilai p-value = 0,562 (0,562 > 0,05).

Plot yang didapat tidak menunjukkan adanya interaksi hubungan antara jenis kelamin (sex) dengan tingkat pendapatan (income) yang mempengaruhi kunjungan ke gerai fastfood, karena garis tidak bertemu (berinteraksi).(yoz)

Uji Kolmogorov-Smirnov

Uji Kolmogorov-Smirnov (Chakravart, Laha, dan Roy, 1967) biasa digunakan untuk memutuskan jika sampel berasal dari populasi dengan distribusi spesifik/tertentu.

Uji Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menguji ‘goodness of fit‘ antar distribusi sampel dan distribusi lainnya, Uji ini membandingkan serangkaian data pada sampel terhadap distribusi normal serangkaian nilai dengan mean dan standar deviasi yang sama. Singkatnya uji ini dilakukan untuk mengetahui kenormalan distribusi beberapa data. Uji Kolmogorov-Smirnov merupakan uji yang lebih kuat daripada uji chi-square ketika asumsi-asumsinya terpenuhi. Uji Kolmogorov-Smirnov juga tidak memerlukan asumsi bahwa populasi terdistribusi secara normal.

Hipotesis pada uji Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut:

H0 : data mengikuti distribusi yang ditetapkan

Ha : data tidak mengikuti distribusi yang ditetapkan

Keunggulan Uji Kolmogorov-Smirnov dibanding Uji Chi Square:

1. CS memerlukan data yang terkelompokkan, KS tidak                                        memerlukannya.

2. CS tidak bisa untuk sampel kecil, sementara KS bisa.

3. Oleh karena data Chi Square adalah bersifat kategorik. Maka ada data      yang terbuang maknanya.

4. KS lebih fleksibel dibanding CS.

Ilustrasi:

Jika kita ingin melihat apakah distribusi data harga kakao pasar spot Makassar dengan bursa berjangka NYBOT menyebar normal. Data yang diberikan adalah dalam US$/ton sebagai berikut:

MAKASSAR

NYBOT

1676

1255

1610

1197

1567

2317

1529

1995

1581

1641

1703

1670

1702

1254

1814

1384

1924

1429

1977

1541

2004

1517

2016

1550

2152

1693

1901

1616

1938

1477

1915

1445

1967

1641

2113

1670

2216

1683

Sumber: FAO (2007)

Uji Kolmogorov-Smirnov terhadap kenormalan data dengan SPSS adalah sebagai berikut:

1. Setelah data dimasukkan ke dalam worksheet SPSS, Pilih Analyze – Non Parametric test – 1 sample K-S, seperti berikut:

1

2. Masukkan sampel yang akan diuji ke dalam box text variable list (satu sampel atau semua sampel), kemudian pada Test Distribution pilih Normal. Kemudian klik OK:

2

3. Output:

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

MAKASSAR

NYBOT

N

19

19

Normal Parametersa,,b

Mean

1858.1579

1577.6316

Std. Deviation

208.48348

260.19591

Most Extreme Differences

Absolute

.160

.223

Positive

.140

.223

Negative

-.160

-.073

Kolmogorov-Smirnov Z

.699

.974

Asymp. Sig. (2-tailed)

.713

.299

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

4. Interpretasi:

Nilai Most Extreme Differences Absolute diatas merupakan nilai statistik D pada uji K-S, nilai D pada uji terhadap masing-masing variabel diatas adalah 0,160 dan 0,223, artinya (p>0,05), maka cukup bukti untuk menerima H0, dimana data terdistribusi secara normal.

Nilai Z pada uji ini juga dapat dilihat dan paling sering digunakan sebagai indikator, dimana nilainya berturut-turut untuk Makassar dan NYBOT adalah 0,699 dan 0,974, berarti p>0,05, maka H0 dapat diterima bahwa data terdistribusi secara normal.(yoz)

Uji T Berpasangan

Uji-t menilai apakah mean dan keragaman dari dua kelompok berbeda secara statistik satu sama lain. Analisis ini digunakan apabila kita ingin membandingkan mean dan keragaman dari dua kelompok data, dan cocok sebagai analisis dua kelompok rancangan percobaan acak.

Uji t berpasangan (paired t-test) biasanya menguji perbedaan antara dua pengamatan. Uji t berpasangan biasa dilakukan pada Subjek yang diuji pada situasi sebelum dan sesudah proses, atau subjek yang berpasangan ataupun serupa. Misalnya jika kita ingin menguji banyaknya gigitan nyamuk sebelum diberi lotion anti nyamuk merk tertentu maupun sesudahnya. Lanjutan dari uji t berpasangan adalah uji ANOVA berulang.

Rumus yang digunakan untuk mencari nilai t dalam uji-t berpasangan adalah:

1

Uji-t berpasangan menggunakan derajat bebas n-1, dimana n adalah jumlah sampel.

Hipotesis pada uji-t berpasangan yang digunakan adalah sebagai berikut:

H0: D = 0 (perbedaan antara dua pengamatan adalah 0)

Ha: D ≠ 0 (perbedaan antara dua pengamatan tidak sama dengan 0)

Ilustrasi:

Jika kita ingin membandingkan nilai matematika siswa di sebuah sekolah sebelum dan sesudah mengikuti bimbingan belajar, data yang diberikan adalah sebagai berikut:

Siswa

Sebelum

Sesudah

1

60

72

2

50

75

3

68

70

4

72

65

5

65

68

6

70

75

7

54

80

8

54

75

9

47

56

10

60

75

11

70

72

12

50

60

13

62

60

14

50

70

15

45

72

Dengan SPSS 17.0 langkahnya sangat mudah:

1. Pertama-tama input data sebagai berikut:

2

2. Kemudian pilih Analyze – Compare Means – Paired Samples T test, seperti berikut:

3

3. Setelah muncul kotak dialog Paired-T test, masukkan kedua variabel ke kotak Paired Variables, kemudian klik continue – OK,

4

4. Akan ditunjukkan output sebagai berikut:

Paired Samples Test

Paired Differences

t

df

Sig. (2-tailed)

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

95% Confidence Interval of the Difference

Lower

Upper

Pair 1

Sebelum – Sesudah

-11.20000

10.80476

2.78978

-17.18348

-5.21652

4.015

14

.001

5. Interpretasi:

Nilai thitung yang dihasilkan adalah 4,015 pada derajat bebas 14 lebih besar daripada nilai ttabel sebesar 1,761 (lihat tabel sebaran t). nilai sig.2-tailed lebih kecil daripada nilai kritik 0,05 (0,001 < 0,05) berarti cukup bukti untuk menerima H0 dimana perbedaan adalah sama dengan nol, artinya terdapat perkembangan signifikan dari hasil bimbingan belajar yang dilakukan terhadap bidang studi matematika di sekolah tersebut.(yoz)

Referensi Lain:

Walpole, R.E.  1995.  Pengantar Statistika.  Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.